
Setiap kali aku memejamkan mata, yang terpikir di kepalaku adalah kucing itu. Seekor kucing siam dengan bulu tipis yang selalu rontok. Matanya berwarna biru, biru terang dan berubah merah ketika disinari lampu senter. Ia gemar memakan makanan kalengan dan enggan memakan makanan kering. Ia tak berbau, baik itu sedap ataupun busuk. Dan ia cukup berisik untuk seukuran kucing dewasa.
Setiap kali aku memejamkan mataku, yang kupikirkan adalah dirinya. sebab ia adalah kucingku di masa lalu.
Ketika malam datang, ia akan melingkar di kakiku, mendengkur dengan amat keras seakan seluruh dunia harus mengetahuinya. Ia gemar memijat-mijat perutku ketika kami berbaring bersama. Memang terdengar konyol, akan tetapi aku sudah menganggapnya lebih dari sekedar kucing.
Apakah ia masih hidup atau sudah mati? Sejujurnya aku pun tak mengetahuinya. Terakhir kali melihatnya adalah ketika ia berada di sebuah kandang kecil dan dibawa pergi menjauh dariku. Hari di mana aku kehilangan dirinya adalah hari di mana aku merasa hancur. Ia adalah kucing pertamaku, dan kurasa ia akan menjadi kucing terakhirku juga.
Siapa yang membawanya? Yang membawanya adalah mantan istriku. Kami bercerai karena ia dekat dengan seorang pria pencandu obat-obatan terlarang, ia pun ikut kecanduan. karena itu ia menjadi seseorang yang begitu asing dariku. Karena itu pula aku kehilangan segalanya.
Suatu ketika istriku bergegas pulang dari suatu tempat yang tak kuketahui, ia memintaku mengurus surat cerai dan memutuskan ini dan itu seorang diri. Aku bilang tak masalah bila ia mengambil semuanya, asal jangan kucing itu. Dan sialnya ia hanya mengambil kucing itu dan meninggalkan semuanya padaku.
Apakah dirinya baik-baik saja? entahlah. Apakah dirinya dirawat dengan baik oleh mantan istriku? Aku pun tak tahu menahu tentangnya. Satu-satunya hal yang kutahu adalah mantan istriku dan pacarnya yang seorang pencandu itu telah lenyap. Ke mana pun aku mencari, kurasa aku tak akan bisa menemukan mereka. Dan ke mana pun aku mencari, kurasa kucing itu juga tak akan kutemukan lagi. Aku selalu bertanya dalam tidurku, ke mana kah mereka membawa kucing itu? tapi kapalaku benar-benar tak bisa memikirkannya.
Suatu malam aku pernah terbangun dengan keringat yang begitu dingin. kucing itu mengeong dalam mimpiku. Aku melihatnya berlarian di sebuah labirin sambil terus menerka keberadaanku. Aku hendak berlari ke arahnya untuk memeluknya. Tapi sekeras apapun kucoba, ia terus menjauh di dalam labirin itu. Bayang-bayangnya menghilang. Suaranya semakin mengecil sampai di satu titik suara itu lenyap. Ke mana ia pergi? tak pernah kuketahui juga.
Ada banyak hal yang tak kuketahui di dunia ini. namun satu hal yang kutahu adalah fakta bahwa aku tak bisa melupakan kucing itu.
Suatu pagi, kami pernah berjalan-jalan ke taman, aku dan kucingku, dan mantan istriku yang mengganggu. Aku memakaikannya sebuah tali kekang yang melingkar di dadanya, sebab yang melingkar di leher akan menyakitinya. Kenapa mesti dipakaikan tali kekang? Karena ia bukanlah seekor kucing yang bisa dipercaya. Ia seringkali kabur, seringkali memanjat pohon dan tak bisa turun, dan seringkali bergerak bagai seorang balita suatu ketika menelan batu, di waktu lain akan menelan hal-hal tak terduga lainnya.
Untuk seekor kucing siam, ia cukup suka berkeliling. Cukup aktif sampai-sampai ia tak pernah berhenti di satu temapt. Ia akan mendatangi sebuah bangku taman dan mengencinginya. Lalu ia akan mendatangi sebuah pohon ketapang dan mengencinginya. Dan suatu kali aku pun pernah dikencingi olehnya. Kencingnya benar-benar bau dan baju itu terpaksa kubuang.
Andai saja tahu kalau ia akan hilang dari diriku, aku tak akan membuang baju itu, aku akan menggantungnya di suatu tempat yang hangat, berharap agar ia dapat menciumnya dari kejauhan, lalu dengan sisa-sisa bau itu, barangkali ia akan bisa menerka jalan pulang. Jalannya menuju diriku.
Aku seringkali berlarut-larut ketika memandangi foto-foto kami di sebuah album khsusus yang kucetak. Foto-foto itu kuambil dengan kamera analog. Aku sering menunjukkan fotonya ketika ia masih bayi, dan ia hanya akan mengeong seperti seekor kucing pada umumnya. Apa arti meongan itu? entahlah. Kurasa ia pun tak mengerti tentang apa yang kubicarakan padanya.
Ketika berbaring di tengah malam yang sunyi, entah kenapa aku sering mendengar suaranya. Dan ketika kuperiksa, suara itu lenyap di kegelapan yang sunyi. Angin berhembus kencang di bulan September, dan akan menjadi hujan di bulan Oktober, aku terus-terusan memikirkan nasibnya nanti di bulan November dan Desember. Ia akan bertahan, adalah sebuah kalimat yang terus-terusan terbayang di kepalaku. Tentu ia akan bertahan, sebab ia adalah seekor kucing yang tangguh.
Suatu ketika ia pernah pulang dari sebuah pelarian, membawa seekor tikus dan meletakkannya di meja makan. Butuh waktu seminggu untukku bisa makan lagi di atas meja itu. Dan sampai sekarang, ketika aku hendak makan, aku terus memikirkan tentangnya dan tikusnya yang malang.
Di setiap siang yang sunyi, aku selalu menyetel lagu-lagu dari Cigarettes After Sex, dan ketika lagu yang berjudul Nothing Gonna Hurts You Baby terputar, yang terpikir adalah kucingku. Setiap kali memikirkannya aku akan menyeduh secangkir kopi tubruk, lalu bermain catur sebentar dengan bayanganku di seberang.
Sudah 6 bulan ia menghilang dan kukira perlahan-lahan aku akan melupakannya. Seekor kucing siam yang cerewet, batinku.
Kemarin aku mendapati kabar bahwa mantan istriku dan pacarnya yang pencandu itu tertangkap oleh polisi.
Maka dengan terburu-buru aku menuju lokasi itu. Hari sudah malam ketika aku sampai, tak ada polisi yang berjaga sebab tempat itu memang sudah kosong. Pintunya terbuka sedikit, menampakkan bagian dalam yang gelap. Aku menyelinap ke dalam dengan sebuah senter kecil yang redup. Rumah itu begitu berantakan dan sepi, dan satu-satunya yang tercium di udara adalah aroma aneh yang pahit. Kukira aku akan mendapati dirinya di sana, terkurung di sebuah kandang dan mengeong padaku, tetapi yang kudapati hanyalah mainan-mainan kucing yang terbengkalai.
Bulu-bulu halusnya bahkan masih menempel di sofa, bulu putih dan pendek dan mudah rontok bila dielus terlalu kuat. Aku mematikan senterku, lama kelamaan mataku menyesuaikan kegelapan ruangan itu. Aku duduk di sofa yang sama dan memejamkan mataku. Lalu aku membayangkan dirinya datang padaku. Cahaya rembulan menembus masuk melalui celah pintu, lalu tiba-tiba cahaya itu terhalangi oleh sesuatu.
“Apakah saya mengenal bapak?” katanya.
Ketika membuka mata, seorang pria tua renta sedang menatapku dengan aneh. Ia memakai beret merah dan jaket lusuh berwarna abu.
Aku bergeleng.
“Tempat ini akan segera dikosongkan,” katanya lagi.
Butuh waktu lama sampai aku menyadari bahwa ia adalah seorang linmas.
“Maaf,” kataku.
Ia bergeleng, “Tak masalah,” katanya.
Aku pun segera berdiri dan berjalan menuju pintu, ia bergeser sedikit ketika aku hendak lewat, dan aroma tembakau begitu pekat tercium darinya.
“Kucing itu sudah lenyap.” Tiba-tiba ia berkata.
“Apa?”
“Kucing itu sudah menghilang dari dunia ini,” ia mengulangi.
Aku melihatnya dengan aneh dan ia melihatku lebih aneh lagi.
“Ketika panangkapan terjadi, kandangnya terbuka begitu saja dan ia kabur entah ke mana. Sejatinya ia sejak dulu memang selalu kabur dan akan kembali di malam hari.”
Lalu muncul pertanyaan dalam benakku, kenapa ia bisa tahu aku mencari kucing itu.
Ia menunjuk tanganku. “Mainan itu punya kucing itu, saya pernah lihat dia lari bawa mainan itu.”
“Oh,” kataku. Aku hedak mengembalikan mainannya ketika si pria tua berkata kalau mainan itu memang akan dibuang dan dibakar, ia menyuruhku mengumpulkan mainan lainnya dan membiarkanku membawanya.
Katanya sudah semestinya maianan itu dibawa olehku.
Aku mengangguk.
Dengan baik hati ia mencarikanku sebuah kardus bekas dan membantuku memunguti mainannya. Dan karena ingin berterimakasih, aku menyerahkan sejumlah uang padanya. Ia menolaknya dengan sopan, mengatakan kalau apa yang dilakukannya adalah sebuah hal yang tak perlu diapresiasi begitu hebohnya. Maka aku menawarinya minum kopi. Tapi ia menolak lagi.
“Saya tak bisa pergi jauh dari sini.” Ia berkata.
Dan karena aku selalu membawa setermos kopi di mobil, maka aku mengatakan kalau kita tak perlu pergi jauh. Ia setuju begitu saja.
Kami minum kopi sampai larut malam, ia merokok dan menawariku, tapi aku menolaknya sebab aku memiliki penyakit bawaan.
Ia hendak mematikan rokoknya tapi aku menahannya lagi. Maka ia tetap merokok dengan canggung.
“Biasanya ia akan kembali sebentar lagi,” sang pria tua berkata.
Aku hanya mengangguk.
Malam itu, tentu saja ia tak kembali. Tak mungkin ia akan kembali, sebab ia telah menghilang di dalam sebuah labirin nun gelap. Satu-satunya harapanku adalah ia dapat mencari jalan pulang ke rumahku. Secara ajaib dapat mencium aroma kencingnya di baju itu.
Sesampai di rumah, aku tak mendapatinya. Ia memang telah lenyap.
Sampai sekarang aku terus menunggunya. Seluruh mainannya kusimpan baik-baik di sebuah kardus dan menyelipkannya di antara tumpukkan barang mantan istriku. Suatu saat akan kubakar dan kujadikan abu. Tapi untuk sekarang aku akan menyimpannya dulu. barangkali ia akan kembali kemari. Kembali ke pelukanku dan memijitku ketika kami berbaring di sofa.
Sampai sekarang dengkurannya sering terdengar di telingaku, dan ketika menoleh, dengkuran itu kembali lenyap di sebuah labirin gelap.
