Menulis Lagu untuk Perempuan Bermata Kucing

Saya suka menulis lagu. Mungkin gak banyak yang tahu soalnya bernyanyi memang bukan salah satu bakat yang saya miliki. Tapi saya bisa pastikan kalau lagu-lagu yang saya tuliskan cukup bagus dan layak bersaing di industri. Cuman memang masalahnya ada pada resource dan kemampuan teknis saya pribadi.

Menulis lagu bagi saya seperti menulis sebuah surat untuk seseorang. Baik itu seseorang yang sudah tiada, masih ada, yang saya miliki, yang tak saya miliki, yang saya sukai, atau yang menyukai saya.  bedanya dengan surat, sebuah lagu memiliki iringan musik dan akhiran katanya lebih sering berima.

Ada sebuah keindahan dalam menulis lagu yang gak dimiliki oleh aktivitas lain. Saya bisa mengutarakan segala perasaan yang saya miliki tanpa harus merasa malu akan perasaan itu.

Mungkin ini agak personal tapi saya tengah menulis untuk seseorang. Seorang perempuan tentunya. Saya pun enggan menulis sebuah lagu untuk seorang lelaki kecuali untuk ayah, kakek, dan sahabat saya yang sudah tiada. Nah, perempuan ini adalah seorang perempuan cukup aneh. Soalnya seingat saya kami sekelas di kampus tapi gak pernah berinteraksi secara langsung. Dan sebenarnya saya cukup tertarik padanya, cuman karena satu dan lain hal, saya harus menahan diri.

Kembali ke menulis lagu.

Sebenarnya menulis lagu itu cukup simpel. Saya tinggal memikirkan tentang perempuan itu sambil memegang sebuah gitar nilon. Sambil tenggelam dalam bayangannya jemari saya akan dengan mudah membuat sebuah melodi. Kadang melodi yang indah, kadang melodi yang menyedihkan. Satu hal yang pasti adalah saya suka chord chord minor.

Ketika sebuah melodi tercipta dan petikan melantun indah, barulah sebuah gumaman muncul. Gumaman apa saja, yang penting mengikuti progresi chord   dari si melodi tadi. Sambil terus membayangkan si perempuan, sebuah kata pembuka datang. Dalam kasus ini adalah ‘mata’ sebab si perempuan memiliki mata yang cukup aneh sekaligus menyebalkan,  saya rasa seperti mata seekor kucing yang kurang  bersahabat, yang kalau didekati maka si kucing akan mendesis tajam.

Lalu muncullah kalimat tentang deskripsi mata si perempuan.

Draft pertama lagu, sama seperti draft artikel dan fiksi, gak perlu rapi-rapi amat. Yang terpenting idenya terperangkap dulu dalam sebuah kertas. Diketik juga boleh, cuman saya lebih suka kertas. Saya juga lebih suka fountain pen ketimbang ballpoin, rasanya ide lebih mudah mengalir keluar. Tentu itu cuman sugesti belaka. Karena fungsi dari kedua benda itu ya sama aja.

Ketika bait pertama selesai, saya akan mengulangi lagi  melodinya untuk mencari bait kedua, dengan lirik yang berbeda pastinya. Untuk reff, saya suka menggunakan chord yang sama tapi melodinya berbeda. Dan untuk draft pertama, lagu-lagu yang saya tulis biasanya berdurasi satu menit. Saya gak tau artikel ini berguna apa nggak, mengingat menulis lagu bukan sebuah hobi yang umum. Tapi who knows lah, siapa tau ada seorang calon musisi terkenal yang melipir ke blog ini dan ketika membacanya dia bisa menulis lagu pertamanya. Hahaha tolol banget.

Pada akhirnya menulis sebuah lagu bukan hal yang spesial, saya kira. Perihal apakah perasaan dan surat saya tersampaikan pada si perempuan juga gak menjadi sebuah hal yang begitu penting. Yang penting adalah bagaimana perasaan tersebut terperangkap dalam lirik-lirik lagu yang saya nyanyikan, yang di kemudian hari bisa dikenang dengan senyuman.

 Adios.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top