
SAYA punya sebuah hubungan tak wajar dengan seorang perempuan (setidaknya tak wajar dari sisi saya). Dia selalu muncul di mimpi secara berkala. Seperti, semisal suatu saat saya telah benar-benar melupakannya, maka akan ada sebuah mimpi yang datang tentang dirinya, seakan berkata: jangan lupa, harus ingat! Hal tersebut kembali terulang semalam, saya mengalami sebuah lucid dream tentangnya. And it was wonderful…
Kami mengenal satu sama lain jauh di masa lalu. Sekitar masa-masa SMP. Dia tuh tipikal perempuan pendiem yang emang sebaiknya diem aja. Karena tiap berbicara sesuatu maka akan menimbulkan ketersinggungan di sana sini. Beneran.
Orangnya gak bisa dikatakan pendek atau pun tinggi. Mungkin kalau diumpamakan dalam bentuk botol, ia seperti botol pocari sweat ukuran 450ml. Lebih besar dari yakult tapi lebih kecil dari aqua tanggung. Dia pakai kacamata. Dan tatapannya cukup sinis. Now don’t get me wrong, walau begitu, dia cantik banget. Bukan tipikal cantik yang akan disetujui semua orang, tapi kalau ada orang yang gak setuju maka saya akan memukul wajah orang tersebut dengan sebuah pemukul baseball tua yang diberi paku dan dilingkari kawat sekelilingnya.
Seingat saya ia cukup lemah, sering sakit, dan amat sangat disayangi orang tuanya. Tapi belakangan saat bertemu lagi, ia cukup banyak berubah. Kelihatannya lebih kuat, tatapannya lebih tajam, dan memiliki passion membantu sesama. Cukup mulia untuk orang seperti dia, sebetulnya.
Seperti yang saya katakan, kami saling kenal di masa SMP. Waktu itu dia sedang bersender di tiang koridor sekolah, nampaknya gak punya temen atau kenalan. Dan dari observasi pertama itu, saya akhirnya terinspirasi menulis sebuah lagu buat dia, tepat sebelum lulus SMA. Bukan sebuah lagu yang cemerlang, tapi lagu yang jujur.
Saya rasa selama masa-masa sekolah itu, saya selalu berusaha menggapai perhatiannya. saya belajar gitar, saya nulis naskah drama, saya mencoba jadi sesuatu. Sebuah ingatan yang kalau dipikir-pikir indah juga. Dulu mungkin agak buruk dan enggan untuk saya ingat.
Sekarang, rasanya seperti baca buku yang sama, plotnya sama, setiap kata sama, tapi di baca pertama saya seorang yang bodoh dan di baca kedua saya masih bodoh, hanya saja sudah sedikit memiliki ketelitian sehingga bisa menggapai detail kecil yang indah.
Saya mulai terdengar seperti si The Dreamer dari buku White Nights. Sama-sama kesepian, sama-sama longing untuk kehangatan. Mungkin semua pria begitu, memiliki Nastenka-nya masing-masing. Beberapa waktu lalu kami bertemu. Ngobrol beberapa hal dan diakhiri dengan salaman perpisahan. Tangannya sangat kecil, lembut, dan agak hangat. Dan rasanya, kehangatan itu udah cukup buat saya.
Sekarang pukul 5:38 pagi, kopi saya mulai dingin dan lagu Mystery Girl oleh Housecall sedang terputar dengan lembut di spotify. Entah kenapa tiap lagu ini terputar, yang terbayang adalah dirinya. Menyedihkan. Anyway, don’t be relatable, be personal. Adios.
