
Hot takes, saya rasa instagram bener-bener membunuh ide kreatif.
Sekitar 3-4 bulan yang lalu, saya menonaktifkan akun dan menghapus total instagram. Alasannya simpel, saya gak bisa fokus dalam segala hal. Dan menjelang persiapan menulis novel ke-6, saya akhirnya memilih untuk lenyap saja dari aplikasi itu. Karena biar bagaimanapun, di hidup saya, instagram gak pernah membawa sebuah dampak positif.
Ada sebuah fakta yang saya dapatkan bahwa instagram secara tak langsung membunuh energi kreatif. Apapun yang saya tulis terasa datar dan tak memuaskan. Apapun yang saya coba buat tak menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Saya tipikal orang yang reflektif, sering diam, dan lebih banyak berpikir. Dan untuk bisa berpikir, saya butuh ruang sunyi dan kebosanan, di mana ketiadaan distraksi menjadi salah satu kunci penting. Dan di sini letak masalahnya. Instagram merupakan distraksi terbesar yang menjauhkan saya dari kebosanan.
Tentu di awal rasanya cukup tertinggal. Rasanya tersiksa gak bisa ngelihat update kehidupan orang-orang atau sesimpel berita transfer pemain Manchester United dari Fabrizio Romano. Tapi hal semacam itu berlalu.
Beberapa minggu kemudian saya dilanda sebuah kebosanan. Dan ketika mulai membuka halaman kosong, gairah untuk menulis kembali muncul. Dan 3 bulan kemudian manuscript setebal 320 halaman berhasil saya rampungkan.
Apa yang saya alami sebetulnya mungkin hanya karena manajemen waktu dan kontrol diri yang buruk. Mungkin ada sebagian orang bisa hidup lancar dan produktif berdampingan dengan sosial media. Tapi saya seorang yang kuno. Dan seseorang yang kuno butuh cara kuno juga untuk menyelesaikan masalah.
Beberapa hari belakangan saya berniat menghapus akun secara permanen. Tapi kemudian masih muncul rasa sayang. Namun rasa sayang pasti berlalu.
Anyway, don’t be relatable, be personal. Adios.
