“Mungkin Persoalannya Bukanlah X, Melainkan Y.”

Authentic vintage handwritten letters on a rustic table with pens.
Picture by jarmoluk via pixabay

Saya sedang mengalami kekalahan beruntun di chess.com ketika saya memutuskan untuk membaca berita di salah satu media berita ternama. Pikir saya, membaca feature atau artikel mungkin bisa sedikit meredam amarah saya. Tapi sialnya amarah itu kian meledak setelah saya mendapati betapa banyaknya artikel berakhir dengan kesimpulan konyol.

            “Mungkin persoalannya bukanlah X, melainkan y.”

Apa-apaan itu!? Saya gak membayar 300rb pertahun buat baca itu!

            “Apaan sih Fluffy, hal kayak gitu aja marah.” Mungkin seseorang berkata demikian dalam benak mereka ketika membaca postingan ini. Tapi biarkan saya berargumen terlebih dahulu. Dengan begitu nama baik saya gak ikut tercemar di sini.

            Apa sih permasalahan dari kalimat “Mungkin persoalannya bukanlah x, melainkan y”?

Pertama, kesimpulan itu berbau AI sekalipun si penulis tidak menggunakan AI.

Satu hal yang saya sadari belakangan ini adalah ada banyak sekali artikel dan video esai yang berakhir dengan formula kesimpulan bukan x melainkan y. Kesimpulan yang, bagi saya sendiri, terlalu generik. Mungkin para pembaca juga pernah menemuinya. Bahkan saya sanksi para pembaca tak pernah menemuinya.

Saya pikir kesimpulan semacam ini sebenernya bagus banget, bahkan tergolong ‘wah’ gitu. Pembaca dijanjikan narasi mengenai x lalu perlahan lahan pembaca digiring menuju y, dan di akhir si penulis merevealnya dengan elegan. Satu dua artikel, orang-orang akan berpikir “Wah sangat otentik dan orisinil!” Atau “Sungguh mencengangkan, orang ini pantas mendapatkan nobel!”

 Bagaimana kalau ribuan artikel? “Meh…”

Tentu maksud saya bukan “Menulislah dengan cara yang sangat berbeda dari kebanyakan orang!” sebab dengan begitu kita kelihatan pretensius dan konyol pula. Setidaknya coba cari cara lain dalam membuat kesimpulan. Coba cari cara lain untuk mengakhiri sebuah artikel atau video. Yeah saya tahu rata-rata pembaca atau penonton jaman sekarang lebih suka disuapi. Tapi coba jangan suapi formula yang sama.

Kedua, bagi saya, kesimpulan semacam itu mengkhianati pembaca. Tentu barangkali buat artikel dan feature untuk media berita keismpulan tetap diperlukan sebab ada beberapa jenis artikel dan feature yang kesimpulannya membuka pandangan baru atau semacamnya. Tapi untuk video esai, atikel yang kita tulis untuk sebuah blog atau bahkan media pribadi di IG, jadilah lebih kreatif lagi. Tolong.

Saya seringkali membayangkan masa-masa ketika kita dipaksa untuk berpikir keras ketika menulis sesuatu, mungkin sebagian besar yang tertuang di kertas adalah omong kosong konyol dan gak berbobot. Tapi disitu ada karakter yang gak dimiliki oleh tulisan-tulisan yang diproduksi dengan bantuan AI atau semacamnya. Ada suara dari orang tertentu yang tertanam dengan baik. Ada identitas. Sehingga ketika dibandingkan satu sama lainnya, ada keberagaman di sana.  

Di samping itu, tolonglah untuk percaya pada tulisanmu atau videomu. Sebuah tulisan yang baik gak perlu penegasan ulang. Kalau memang perlu, Jangan buat kesimpulan dengan formulasi generik.

Meski begitu saya sendiri yakin bahwa hal ini pun bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Barangkali mereka memang gak menggunakan AI. Barangkali mereka cuman terlalu sering terpapar dengan hal ini, sehingga di bawah sadar menulis dengan cara begini. Entahlah. Bukan masalah yang besar pula sebab cuman saya yang merasa resah. Adios.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top