
“Untuk sehari-hari, tanaman aren dapat diandalkan,” kata para petani yang saya wawancarai ketika sedang melaksanakan penelitian skripsi di bulan Agustus silam. “Bagaimana tidak,” tambahnya, “aren itu bisa dipanen hampir setiap hari.”
Hari mereka dimulai dengan menyesap secangkir kopi hitam dari biji kopi yang mereka tanam sendiri. Ketika matahari mulai cukup hangat, barulah terdengar suara motor berlalu lalang di depan warung sembako milik seorang kepala Dusun Batu Kemali. Kebetulan warung itu berada di pintu masuk hutan, di sana lah saya sering menunggu petani yang berlalu lalang.
Bagi sebagian besar petani hutan di Desa Bukit tinggi, aren adalah sumber penghasilan utama mereka. Tanaman dengan nama ilmiah arenga pinnata ini merupakan sejenis palem-paleman yang tumbuh subur di HKm Wana Lestari. Para petani hutan akan memanen nira aren di pagi hari dan membuat gula di siang hari. Lalu di keesokan hari atau di penghujung minggu—ketika batok-batok gula mereka telah terkumpul—mereka akan menjualnya ke pasar lilir yang berada 6 kilometer di bawah desa.
Meski demikian ketika berbicara mengenai pendapatan, terlihat raut-raut aneh mulai muncul di wajah para petani. Saya sendiri sedikit gugup ketika bertanya, takutnya mereka tersinggung. Namun, jawaban yang diberikan oleh para petani tak jauh-jauh dari, “Yah, cukup lah untuk kehidupan sehari hari.”
Saya, yang memang hidup di perkotaan sebagai seorang mahasiswa, sedikit penasaran akan keterangan itu. “Cukup itu seberapa? 3 juta?” saya kembali bertanya. Mereka serempak tertawa dan melihat saya seolah mereka sedang melihat seorang yang amat konyol. “Jangankan 3 juta, satu juta aja ndak dapet,” celetuk salah seorang petani.
Saya pun menjalankan wawancara ke 52 responden dari total 230 petani hutan di HKm Wana Lestari. Sebanyak 43 orang menjawab pendapatan mereka ada di angka kurang dari 1 juta rupiah perbulan. Pendapatan tersebut adalah hasil dari mengelola lahan hutan, belum termasuk dari pekerjaan sampingan yang mereka jalani.
Ketika sedang duduk bersama seorang ketua gabungan kelompok tani hutan bernama pak Haji Nasrudin, atau yang akrab disapa Haji Nas, saya mendengar beberapa keluh kesah dalam pengelolaan hutan, dan beberapa di antaranya cukup sulit ditangani olehnya sendiri. “Macem-macem mas, tapi memang monyet sama mahoni itu yang paling nyusahin.” Terang beliau.
Dari keterangan petani lainnya yang saya wawancarai, para monyet doyan meminum nira yang masih ada di dalam wadah bambu, salah seorang petani berkata kalau tangan-tangan mereka dengan cekatan membuka penutup seng yang sengaja ditaruh petani. Beberapa istri petani mengaku kalau mereka takut untuk masuk ke hutan sendirian sebab para monyet yang beberapa kali didapati mengejar perempuan.
Ketika saya berkeliling mencari responden untuk penelitian, saya mendapati para wanita selalu berkegiatan dalam kelompok-kelompok kecil, banyak pula bapak-bapak petani berlalu lalang dengan sepeda motor buntut dan sepucuk senapan angin dikaitkan di pundak.
Hal ini dibenarkan pula oleh pak Haji Nas dan beberapa petani lainnya. “Kalau ndak bawa bedil mas, jangan harap mereka takut, perempuan-perempuan aja mereka kejer, bener ini, tau mereka bedanya laki-laki dan perempuan.”
Ternyata ada alasan kenapa monyet monyet itu bisa masuk ke dalam HKm. Beberapa petani berpendapat, penyebabnya adalah adanya petani yang tidak aktif mengelola lahan. Di atas kertas tertera bahwa sang pemilik lahan masih aktif mengelola, namun di lapangan ada banyak lahan-lahan tidak terawat dan ditumbuhi oleh tanaman liar. Para monyet tadi, menyelinap dari satu lahan tak terawat ke lahan lainnya.
Obrolan saya terus berlanjut dengan pak Haji Nas sampai menjelang maghrib. Selain permasalahan monyet tadi, ada sebuah masalah yang jauh lebih besar. Menurut keterangan beliau, Di tahun 1999 sampai 2000-an awal, pemerintah membagikan tanaman kehutanan gratis pada masyarakat Desa Bukit Tinggi untuk ditanam di sekitaran derah aliran sungai meninting guna merehabilitasi kawasan. Bagian dari hutan yang mereka kelola adalah salah satu tempat yang menjadi target penanaman tersebut. Hal itu memang terdengar sangat baik. Masalahnya adalah kawasan hutan di Desa Bukit Tinggi terdaftar sebagai kawasan hutan lindung dan sebagian besar tanaman yang dibagikan merupakan bibit tanaman mahoni, sebuah tanaman berkayu yang akan sangat besar ketika mencapai usia dewasa.
Lalu apa dampaknya? Pemerintah melarang keras penebangan kayu di hutan lindung. Di samping kebijakan yang berlaku, pohon-pohon mahoni tadi juga diharapkan dapat menjaga mata air di sekitaran hutan mereka. Pokok utamanya ada pada mahoni yang merupakan salah satu tanaman berkayu. Mahoni akan menjulang tinggi tanpa menghasilkan keuntungan ekonomi pada petani, sementara petani diminta untuk tidak menebang pohon mahoni tersebut ketika menggarap lahan. Hal ini pun berdampak pada banyak hal di kemudian hari. Lahan yang terbatas oleh pertumbuhan mahoni menyebabkan mereka kesulitan menanam durian dan manggis. Tajuk-tajuk lebarnya mahoni membuat tanaman mereka kekurangan cahaya.
Di samping itu terdapat pula masalah lainnya. Rata-rata petani memiliki luas lahan di bawah 0,5 hektar. Sangat kecil apabila lahan-lahan tersebut telah ditumbuhi tanaman mahoni yang menjulang tinggi. Saya sempat mewawancarai seorang petani hutan yang merupakan menantu dari salah seorang pengelola lahan terdahulu. Tanah yang ia kelola sekarang merupakan tanah warisan mertuanya yang terdaftar sebagai pengelola lahan pertama. Sudah lah tanahnya teramat kecil, tanah negara itu pun dikelola beberapa keluarga.
Sebagai seorang mahasiswa kehutanan, saya berada di sebuah persimpangan yang sulit ketika hendak memutuskan untuk berpihak pada siapa, sebab para petani dan pemerintah masing-masing memiliki tujuan dan alasan yang jelas.
Di dalam petak-petak kecil itu, para petani menggantungkan hidupnya. Pada tanaman buah-buahan yang bersaing dengan mahoni. Pada tanaman rimpang rimpangan yang berupaya bertahan dari serbuan monyet ekor panjang.
Pada akhirnya, aktivitas pengelolaan hutan yang dilakukan para petani di Desa Bukit Tinggi terkekang oleh kebijakan pemerintah yang bertujuan mulia. Sampai sekarang, mereka terus berjuang menghadapi tantangan ini. Melalui sisa-sisa tanaman aren yang mereka miliki, yang bersaing dengan para monyet dan kerindangan mahoni.
