Betapa Sebuah Hal Jauh Lebih Berharga Ketika Lenyap.

Close-up of a chess queen lying on a chessboard, symbolizing defeat.
by Brent Druyts via pexels

Saya bener-bener menyukai catur akhir-akhir ini. Sangat suka sampai-sampai mempelajari banyak hal-hal dasar tentang catur.

Sebagai konteks, saya sudah bermain catur sejak masih SD. Setiap liburan ke sumbawa, kakek saya selalu bermain catur dan saya sering mengamati. Lalu masuk kelas 6 SD, saya mulai akitf bermain bersama seorang teman sekelas bernama Agung. Kami seringkali menyelinap ke perpustakaan, mengambil papan terbaik dan memainkannya di jam kosong atau jam istirahat. Baik saya atau pun dia bukan orang yang pandai bermain catur. Kami sama-sama tolol. Mengingat kejadian ini membuat saya terpikir akan sebuah meme di mana orang buta menuntun orang buta lainnya untuk berjalan ke sebuah lubang.

Suatu saat sebuah turnamen catur diadakan di SD 23 Kota Mataram. Well bukan sebuah turnamen resmi yang diadakan oleh percasi, tapi semacam penyaringan bakat-bakat muda atau semacamnya. Saya, lagi-lagi masih bodoh, dan Agung, yang sama-sama bodoh, mengikutinya. Kami berdua sama-sama berakhir meraup kekalahan.

Singkat cerita, kakek saya meninggal, kami lulus, dan catur menjadi sebuah hal yang asing bagi saya. Bukan benar-benar asing, mungkin menjadi semacam hal yang saya kenali tapi tak pernah bisa saya kenali lebih jauh. Dengan demikian, ketika memulai kembali, saya masih buta seperti dulu. Masih sama-sama orang tolol yang berusaha memahami sesuatu.

Satu hal yang terus-terusan terjadi ketika saya bermain catur adalah betapa saya terlalu fokus untuk menyerang sampai lupa untuk bertahan, atau sebaliknya. Saya pun bukan orang yang sabar dan lebih suka bermain bar-bar. Alhasil para perwira dan bidak-bidak saya terus-terusan lenyap. Hal ini terus berulang sampai saya sendiri jengah dengan keadaan ini. Kenapa saya terus-terusan kehilangan perwira dan bidak, barangkali sebuah pertanyaan paling konyol di dunia ini, sebab saya sendiri sudah tau jawabannya tapi saya enggan mengakuinya.

Sebuah hal juga terjadi pada hidup saya akhir-akhir ini. Ada banyak keputusan yang dibuat tergesa-gesa tanpa memikirkan konsekuensi di baliknya. Seperti membuang ide-ide novel dan cerpen atau sesederhana menolak seorang perempuan yang baik hati.  Dan, ketika semuanya telah lenyap, barulah saya menyadari betapa berharganya hal-hal tadi. Baik itu seorang perwira, seorang bidak, atau seorang perempuan yang baik hati.

Sekarang jam 20:54 di Kota Mataram, langit gelap dan udara masih hangat. Saya sedang mendengarkan Cinta Melulu oleh Efek Rumah Kaca ketika mulai menulis, dan diakhiri sebuah lagu dari Fur dengan judul You.

Suatu saat saya mungkin akan belajar bermain catur dengan baik. Dan barangkali belajar tentang pengambilan keputusan juga. Saya mau buat kopi dulu, see ya!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top