
Waktu itu hari jumat, atau sabtu, entahlah. Tak ada yang peduli.
Tapi setelah kupikir beberapa lama, sepertinya hari minggu, sebab setiap hari minggu aku selalu berlari. Dan pagi itu, aku berlari.
Setelah sekian lama tidur tanpa mimpi, aku akhirnya mengalami sebuah mimpi aneh dan cukup absurd.
Mimpi itu kelewat aneh dan tak bisa kujelaskan dengan baik, tapi selayaknya mimpi-mimpi aneh dan tak bisa dijelaskan dengan baik, selalu ada satu hal yang tertinggal di kepala dan terus menerus meminta untuk diingat.
Mimpi selalu seperti itu, kukira.
Hal-hal yang tertinggal itu lama kelamaan pun harusnya akan hilang dengan sendirinya, seperti mimpi-mimpi aneh yang dialami ketika kita sedang berusia belasan tahun. Lenyap dan hilang karena saat itu mimpi tak begitu penting. di usia itu ada jauh lebih banyak hal penting.
Tapi aku tak lebih dari seorang yang berusia 25 tahun, dan masa-masa belasan tahun itu sudah lama menghilang, tenggelam, dan tak terpikirkan sama sekali. Dan, mimpi lambat laun menjadi penting.
Satu hal yang kuingat adalah fakta bahwa aku memimpikan perempuan yang ada ketika aku berada di rentang usia belasan tahun. Meski sebetulnya aku pertama kali bertemu dengan perempuan itu di usia 20an awal, tapi rasanya di mimpi itu aku tengah berada di usia belasan tahun. Sebab di mimpi itu aku bahagia. Dan, selayaknya seorang bocah laki-laki berusia belasan tahun yang bahagia, tak ada hal yang lebih penting dari seorang perempuan yang kita sukai.
Sambil terus memikirkan mimpi itu, aku berjalan ke pemanas elektrik lalu memanaskan air dan membuat secangkir nescafe. Aroma kopi memenuhi rongga kepalaku, sambil meminumnya sedikit demi sedikit, kuperhatikan jam yang terus berdetik. Sudah pukul 4:25. Lalu aku ke toilet untuk buang hajat selama 10 menit dan akhirnya cukup bugar untuk melaksanakan lari pagi yang melelahkan.
Pagi itu begitu sunyi, orang-orang berjalan dengan pelan, dan satu hal yang ada dipikiranku adalah kenapa aku memimpikan seorang perempuan. Aku pun mulai berlari.
K dari Cigarettes After Sex melantun lembut di headphoneku. Dan beberapa menit diikuti oleh Cry yang jauh lebih muram.
Setelah berlari cukup lama dan kepalaku sudah lumayan sadar untuk berpikir lebih jauh, akhirnya aku mengingat detail-detail kecil perempuan di mimpi itu. Aku tak mungkin menuliskan namanya di sini. Jadi untuk memudahkanku menceritakannya, maka kusebut saja dia dengan nama N.
N adalah seorang perempuan periang dan cukup serius, tak pernah suka bila ingin dibantu dan selalu berlagak kuat. Tubuhnya sangat pendek, nyaris sependek bocah kelas 6 SD. Kalau N tersenyum, maka kedua pipinya terlihat penuh dan menampakkan sebuah lekukan kecil di bawah matanya yang menyipit.
Aku tak pernah tahu apa nama lekukan itu, dan kenapa lekukan itu ada disitu. Tapi lekukan di pipi itu memberi kesan aneh, kesan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dan demikianlah. Lambat laun, kurasa aku ada sedikit ketertarikan padanya.
Setelah 10 kilometer berlari, akhirnya aku berada di pemberhentian pertama, sebuah minimarket yang terletak di tempat bernama Ampenan. Berhenti di sini tak pernah terencana, tapi entah kenapa setiap berlari di hari minggu, aku selalu berhenti di sini. Barangkali ada sesuatu yang mengikatku, pikir otak tololku. Namun setelah kuingat ingat, beberapa minggu lalu uangku kurang 1.000 rupiah, dan si kasir memberikan minuman elektrolit yang ingin kubeli begitu saja. Dan demikianlah tempat ini menjadi tempat pemberhentian resmi pertama.
Sambil menegak elektrolit yang kubeli, aku mulai berjalan, waktu di jam terus berlalu dan terik matahari mulai membakar kulitku. Dan karena pagi itu aku lupa mengoleskan vaseline di kedua putingku, maka kedua benda tak berguna itu pun luka dan memberi rasa tak nyaman. Namun, entah kenapa, lagi-lagi pikiran tentang N kembali.
Di mana keberadaan N sekarang? aku tak tahu.
Apa yang ia lakukan sekarang? aku juga tak tahu.
Demikianlah pengetahuanku tentang N hanya terbatas pada masa mudanya. Pada usianya yang belasan tahun. Pada saat di mana kebahagiaan terpancar ke sana kemari dan yang kita ketahui hanyalah hal-hal konyol dan sepele.
Kalau dipikir-pikir lagi, N bahkan bukan seorang yang dekat denganku. Hubungan kami pun hanya terbatas pada pertemanan yang terjadi lantaran sebuah kewajiban di perkuliahan. Kalau saja kewajiban itu tak ada, maka aku dan N tak akan pernah bertemu. Maka lekukan aneh di pipinya tak pernah hadir dalam ingatanku.
Suatu kali, aku pernah mendapati N berjalan lembut di sebuah turunan. Ketika menyadari aku tengah melihatnya, ia hanya bisa tersenyum dan menampakkan kedua lekukan kecil di puncak pipinya.
Aku yang tolol hanya mengangguk dan tak membalas senyum. Demikianlah senyuman itu tak pernah dipancarkan lagi padaku.
N memiliki posisi cukup penting dalam kelompokku, dan karena itu kami sering berhubungan. Meski begitu, hubungan itu tak lebih dari sekedar formalitas. Menanyakan ini dan itu, lalu menjawab ini dan itu. Tak pernah ada basa-basi dan aku pun cukup yakin tak perlu ada basa-basi. Rasanya cukup aneh mendapati diriku memikirkannya sekarang. Dan tanpa sadar 15km sudah berlalu.
Sesampai di rumah aku membasuh wajahku berkali-kali. Lalu memasak tiga butir telur di iron cast pan dan memakannya langsung di atas cast pan itu. Tak ada nasi, tak ada roti. Aku cukup malas membeli roti dan memasak nasi.
Setelah sarapan konyol itu, aku terbaring, dipenuhi keringat yang mengering menjadi butir butir garam, menatap langit-langit kamar dan masih memikirkan apa yang sedang N lakukan. apakah ia masih berjalan menuruni turunan seperti dulu, lalu memancarkan sebuah senyuman aneh dengan lekukan aneh di pipinya?
Apakah N juga memikirkanku? Kurasa tidak.
Kalau dipikir-pikir N bahkan sangat membenciku. Suatu waktu, aku tak becus menjadi ketua kelompok dan akhirnya ia dan satu teman lainnya tak pernah mau kumintai tolong. Kurasa hal seperti itu adalah hal wajar yang dialami ketua. Dan karenanya aku menjadi terbebani dan berakhir menjaga jarak cukup jauh.
Fakta bahwa aku mengalami mimpi tentangnya barangkali tak mengubah apapun. Tak mengubah fakta bahwa kami menjadi dua orang asing.
Apocalypse kini melantun lembut melalui busa earphone yang lembab.
Sejak saat itu, setiap kali aku berlari N selalu muncul di ingatanku.
Dan, ketika ingatan tentangnya muncul, aku berupaya mencarinya di setiap kerumunan orang. Berharap mendapatkan N yang dulu tengah memancarkan senyumannya ketika ia sedang berjalan di sebuah turunan.
Apakah N sekarang sudah mati? Mungkin.
N yang kuketahui mungkin sudah lama mati. Namun, biar bagaimanapun, N di ingatanku tetap hidup. Tetap bersemangat dan masih memiliki lekukan aneh di pipinya.
