
TAHUN LALU, saya pernah terpilih menjadi proofreader seorang penulis terkenal. Kita sebut aja namanya bang JS.Khairen, yang terkenal dari serial Kami Bukan-nya. Waktu itu ia membuat sebuah perekrutan kecil-kecilan buat orang yang pernah baca lebih dari dua karyanya, buat bookstagram atau booktok, dan buat pembaca setianya. Masalahnya adalah saya bukan salah satunya. Yang saya punyai hanya blog ini. Yang pernah saya baca cuman novelnya yang berjudul Kami Bukan Sarjana Kertas. Bahkan saya gak suka gaya bahasanya.
Akhirnya saya kirim surel, bilang bahwa saya punya blog bla bla, saya pernah baca Kami Bukan Sarjana Kertas bla bla, dan saya kurang suka gaya bahasa beliau tapi suka sama plotnya. Dan harus saya akui, beliau memang jenius soal plot.
Waktu itu pembagian nya begini: ada yang cuman dapet 30% novelnya, ada yang dapet 50% (kalau gak salah), dan ada yang khusus dapet 100% (katanya gak gitu banyak). Beberapa hari berlalu, di suatu pagi saya mendapat balasan surel dari beliau. Surprisingly saya terpilih jadi pembaca 100% ceritanya.
Bisa dibilang ini salah satu batu loncatan buat saya dalam proses craftmanship sebuah novel. Karena ini begitu berharga untuk mental sekaligus motviasi buat saya. Kenapa? Karena yang beliau kirim adalah draft yang belum jadi, yang masih mentah, ibarat sebalok kayu dengan banir yang masih menempel dan butuh dipahat untuk menjadi sebuah patung yang begitu indah. Saya baca draftnya, dan rasa insecure saya terhadap diri saya hilang seketika.
Ternyata seorang JS.Khairen pun menulis sebuah draft yang agak berantakan, agak dipaksakan, namun ada satu hal di situ yang gak bisa disamai, yaitu suara. Satu hal yang waktu itu berusaha saya gapai sedemikian rupa caranya.
Long story short, saya memberi beberapa puluh halaman kritik sekaligus opini pribadi tentang draft itu, sesuai dengan arahan beliau tentunya. Dan, saya gak tahu apakah beliau membacanya, apakah beliau menerimanya, atau beliau melihat surel saya dan berkata “Meh, bocah kemarin sore tahu apa?” Hahaha. Tapi yang jelas, apakah beliau membacanya atau nggak, gak begitu penting. Pendapat seorang saya adalah pendapat yang bisa didapat dari orang lain. Yang terpenting adalah apa yang saya baca di sana, di draft mentah novel beliau, adalah sebuah motivasi yang menjaga diri saya untuk tetap maju sampai sekarang.
Tadi pagi, saya ke gramed, mau lihat-lihat buku aja. Dan novel beliau—yang saya baca dan beri kritik—muncul di hadapan saya. di sebuah rak sempit dan bertumpuk dengan karya JS.Khairen lainnya, novel tersebut berjudul Rumah. Perasaan saya gak bisa saya deskripsikan secara baik. Tapi yang jelas perasaan itu masih terus ada sampai di malam saya menulis artikel ini. By the way, don’t be relatable, be personal. Adios.
