White Nights by Fyodor Dostoyevsky

White Nights-Fyodor Dostoyevsky terbitan Penguin Classic

“It was a wonderful night, the kind of night which is only possible when we are young.”

Kalimat pembuka yang amat indah untuk sebuah novella yang melankolis. White Nights karya Fyodor Dostoyevsky adalah sebuah novella yang menceritakan malam malam indah yang dilalui oleh seorang laki-laki menyedihkan dan kesepian. Kenapa tergolong malam yang indah? Karena untuk pertama kalinya si karakter utama dapat berinteraksi secara intens dengan seorang perempuan bernama Nastenka. Nastenka Oh Nastenka…

Sampai sini pasti ada yang bertanya, kenapa ketika merujuk pada karakter utamanya saya gak sebutkan namanya? Jawabannya adalah karena ia memang tak memiliki nama. Serius. Saking fokusnya si cowok ini terhadap Nastenka, ia sampai gak begitu mempedulikan namanya sendiri. Tak jarang setiap membahas novella ini pasti banyak yang menyebutnya dengan sebutan lain, seperti the dreamer atau semacamnya lah.

Terbit dengan judul Belye Nochi dalam bahasa Rusia di tahun 1848 dan jumlah halaman 86, White Nights dengan mudah menjadi salah satu bacaan klasik ringan yang cukup populer.

Ada sebuah kutipan yang amat indah (menurut saya) dan cukup relate (dengan saya)  yang berbunyi:

“Your hand is cold, mine is as hot as fire. How blind you are, Nastenka!…”

Waktu baca kutipan itu, gak ada perasan lain yang muncul selain rasa sepi yang menggema di segala sisi kepala saya. Bagaimana seorang hopeless romantic bisa begitu tenggelam oleh sedikit keramahan yang wajar dari seorang perempuan. Tapi jujur, gak bisa salahin The Dreamer juga karena emang nyatanya Nastenka juga  menyebalkan.

Kelebihan Buku

Ada banyak sekali kelebihan yang bisa dibahas dari buku ini, salah satu yang  paling menonjol adalah bagaimana novel setipis ini dapat membuat kita tenggelam dalam sisi karakter utamanya.  Ibaratnya Fyodor Dostoyevsky berkata, “Ini 86 halaman, kalau kamu ngerasa gak kenal sama The Dreamer, jaminan uang kembali!”

Kelebihan lainnya  adalah bahwa novel ini cukup to the point dengan tema utama, gak ada subplot (karena emang cuma novella) dan selesai dalam sekali duduk.

Atmosfernya juga gila banget. Cara Fyodor Dostoyevsky menggambarkan malam malam putih ini membuat saya terbayang sebuah lukisan Van Gogh yang berjudul The Starry Night.

Terakhir, gaya bahasanya dan metafora yang digunakan sangat amat indah. Saya heran gimana orang jaman dulu bisa nulis indah-indah. Gaya bahasa dan metafora indah tadi bikin tulisan ini tetap nikmat untuk dibaca beberapa kali. Saya sendiri baru baca dua kali dan sebentar lagi bakal baca ketiga kali.

Kekurangan Buku

Kalau harus sebut kekurangannya, saya rasa ada banyak juga. Pertama agak muter  di bagian tengah, ada beberapa pengulangan dari sisi pikiran The Dreamer yang berkali kali bilang, udah ini cewek emang bukan buat kamu, tapi doi terus terusan aja deketin. Jadi kalau kamu tipikal yang membaca demi plot dan fast reader, novel ini gak akan cocok, serius.

kedua si karakter The Dreamer cengeng banget, tiap beberapa kalimat, “Nastenka, oh Nastenka,” ayolah men, cewek banyak banget dan kamu fokus ke satu orang aja? Tapi gak bisa dipungkiri juga, setiap cowok pasti pernah ada di posisi The Dreamer dan punya Nastenka-nya sendiri. Barangkali sebuah fase wajib yang harus dilakukan demi menjadi laki-laki, dan Dostoyevsky menggambarkannya dengan amat akurat.

Ketiga, karena saya membaca yang versi berbahasa Inggrisnya, agak sulit buat memahami segala isinya di awal membaca, banyak kata baru yang bisa saya pahami ketika baca kedua kalinya. Tapi justru, saya rasa, disitu letak nikmatnya.

Cocok Untuk

Cocok untuk penyuka genre one sided love atau pria-pria hopeless romantic di luaran sana.

Kesimpulan

You should read it, at least sekali lah dalam seumur hidup. Kalau sayang uang buat beli novel setipis ini, tenang aja, novella nya udah public domain khusus berbahasa Rusia dan beberapa translation bahasa Inggris. Jadi tinggal searching sedikit di Google, baca bentar dan nikmatin tuh gimana cengengnya The Dreamer.

Easiest 9/10 buat saya.

Don’t be relatable, be personal. Adios.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top