The best kind of reading is rereading

Tsukuru Tazaki dan White Nights

Saya sering mendengar kalimat serupa di berbagai wawancara penulis-penulis yang udah published. Cuman bunyinya jauh berbeda. Writing is rewriting. Yang kalau diartikan adalah menulis ya menulis ulang. Demikianlah saya menemukan kalimat “The best kind of reading is rereading.”

Sebelumnya saya bukan orang yang suka baca buku dengan judul yang sama berulang kali. Soalnya rasanya bener-bener aneh, mirip-mirip ngelihat ke masa lalu padahal kalau dipikir-pikir gak perlu. Apalagi kalau masa lalunya buruk. Meh…

Tapi belakangan—karena buku-buku saya sudah habis dibaca dan harga buku lumayan mahal—saya akhirnya mulai baca-baca buku yang sudah saya baca dulu. Emang bener, rasanya kayak melihat ke masa lalu. Tapi kali ini kenangan yang ditangkap jauh berbeda.

Kenapa Mulai Baca Ulang?

Harga buku mahal

Seperti yang kita ketahui, harga buku  di indonesia bisa dikatakan mahal banget apabila dibandingkan dengan upah minimum.

Semisal, harga satu buku (novel) tuh 80-100rb. Upah minimum rata-rata di indonesia cuman 2,5juta. Bayangin gimana sayangnya kita buat beli buku baru. Apalagi belum bayar ini itu, uang makan, cicilann rumah, dll. Buku udah kayak benda mewah yang gak terlalu urgent buat dibeli. Di sisi lain ada hiburan yang jauh lebih terjangkau, semacam sosmed atau film bajakan, gratis.

Saya inget pernah penasaran sama satu buku yang harganya 150-180rban. Saya bener-bener mikir selama beberapa hari, apa emang buku ini layak buat dibeli atau enggak. Bandingkan dengan negara-negara barat yang harga bukunya mungkin bisa lebih murah dari harga makan siang mereka. Kalau saya harus puasa seminggu buat beli satu buku, mereka cuman perlu intermittent fasting sehari. Dan itu bikin saya iri setengah mati.

Buku bagus sulit dicari

Suatu ketika, saya pernah menonton sebuah video tentang seorang sutradara terkenal mengatakan bahwa ia baru saja membaca sebuah buku yang amat bagus. Saya (yang pada saat itu sedang gemar sekali membaca) akhirnya terpancing untuk membeli buku yang ia katakan ‘Mindblowing’ itu. ternyata setelah saya baca 10-20 halaman, nyatanya itu jadi salah satu buku yang gak pernah bisa saya nikmati.

Sebetulnya tak ada yang salah dari si sutradara, si penulis, atau pun saya sendiri. Soalnya kan selera orang beda-beda. Tapi intinya bukan itu… Saya rasa daripada mencari peruntungan dengan mendengarkan saran orang tentang suatu buku yang  amat bagus, mending baca ulang buku yang sama, yang sudah terjamin bagusnya. Serius.

Bener, ceritanya emang sama dan gak menawarkan sesuatu yang baru, tapi saat baca kedua kalinya, pasti ada satu atau dua hal yang  baru kita sadari. Dan itu bikin kita merasa lebih deket sama buku itu. Di samping itu, nyatanya buku bagus emang agak sulit dicari. Ada banyak sekali buku generik dengan alur dan plot yang mirip-mirip satu sama lainnya. Hal-hal ini menyebabkan nyari buku bagus dan sesuai sama selera kita jadi agak tricky.

Apa yang berubah?

Sejauh saya nerapin membaca ulang,  saya menyadari satu hal,  yaitu nyatanya selama ini banyak sekali yang terlewatkan dari buku-buku yang cuman pernah saya baca sekali. Bener-bener banyak.

Kayak di novel terakhir yang saya baca, judulnya Tsukuru Tazaki. Saya mendapati selipan-selipan foreshadowing dari rahasia terbesar di novelnya tentang bagaimana pengibaratan mimpi  di sini mengganggu realitasnya. Kemudian di novel White Nights (bahasa inggris) saya lebih mengerti beberapa metafora dan simile yang dibubuhkkan Fyodor Dostoyevsky secara bersahaja. Jujur aja di baca kedua saya nangis.

Contohnya pada bagian: ‘Your hand is cold, mine is as hot as fire. How blind you are, Nastenka!’

Damn, siapa yang membiarkan Fyodor Dostoyevsky memasak?

Kemudian di satu sisi (cukup personal buat saya) baca ulang bikin saya lebih teliti dalam mencari susunan kata dalam sebuah kalimat, bagaimana seorang novelis membuka sebuah bab atau chapter, lalu bagaimana cara menyetel ritme yang pas. Ketika saya membaca sebuah judul novel pertama kali, maka hal-hal semacam ini terlewatkan. Kenapa bisa terlewatkan? Simpel, lantaran saya terlalu fokus pada jalan cerita.

Dengan baca ulang saya sangat amat terbantu. Dari sisi pembaca yang berusaha memahami hingga dari sisi seorang penulis yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam craftmanship sebuah fiksi. 

Baca ulang gak mesti baca keseluruhan, bisa juga baca separuh, kemudian beralih ke buku lain dan baca lagi separuh.  Bisa juga ada orang yang cuman mau baca buku karena plot sehingga baca ulang gak relevan buat mereka, gak masalah sama sekali. Baca ulang atau baca buku baru, keduanya sama-sama baik. Yang nggak baik kalau males baca.

Dan inget, don’t be relatable, be personal.

Adios.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top