
Hanya ada satu hal yang spesial dari novel ini, dan bagi saya, satu hal aja udah cukup untuk membuat saya tenggelam berkali-kali di dalamnya. A Painted House karya John Grisham adalah sebuah mahakarya yang akan terus saya baca sampai akhir hayat. Saking sukanya dengan novel ini, saya memiliki dua copy, pertama berbahasa Indonesia dan kedua berbahasa Inggris (well bukan milik saya, yang berbahasa inggris adalah milik paman saya, dan saya boleh meminjamnya kapan saja).
Anyway, apa yang membuat novel ini disebut mahakarya oleh seorang Fluffy? Jawabannya memang sangat personal, sebab novel ini datang ketika saya sedang tenggelam dalam kegiatan gak berguna. Novel ini juga yang membuat saya tertarik untuk menulis. Dari novel ini saya tahu bahwa membaca novel juga bisa seseru itu. Kedengerannya kayak tiga jawaban ya? Tapi saya gak peduli.
Kalau kita membicarakan John Grisham tentu yang paling terkenal adalah karya-karya thriller hukumnya yang menegangkan. Tapi karya yang satu ini seperti sebuah anomali di siang bolong.
Cerita dimulai ketika Luke Chandler, seorang bocah berusia 7 tahun, sedang membantu kakeknya mencari orang-orang dari pegunungan untuk memetik kapas di kebun kapas milik keluarga mereka. Waktu panen sudah lewat, dan rumor tentang banjir akan melanda berseliweran. Keluarga Luke harus segera memetik kapas-kapas itu, sebab apabila tidak terpetik mereka akan terlilit hutang lebih dalam.
Cerita pun bergulir mengikuti keseharian Luke di ladang kapas, mulai dari memetik kapas, membicarakan kehidupan orang lain, mengamati para orang dewasa, dan mengintip perempuan yang sedang mandi. Serius. Dia ngintip. Tapi yang menarik adalah bagaimana semua itu dibungkus sedemikian rupa sehingga hal-hal yang terdengar biasa aja jadi kerasa spesial. Seperti gimana interaksi bocah dan perempuan cantik, pipinya memanas dan menjadi salah tingkah sampai-sampai sering salah melirik.
Di Indonesia novel ini diterbitkan oleh Gramedia, diterjemahkan oleh Hidayat Saleh dan memiliki 560 halaman (465 halaman untuk versi berbahasa inggris). Saya ragu apakah kalian masih bisa menemukan novel ini terjual toko-toko buku, sebab saya pun membeli buku bekasnya (cetakan 2001).
Kelebihan Buku
Yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana kehidupan orang dewasa dipandang secara sederhana lewat sudut pandang seorang bocah. Bagaimana seorang bocah menyikapi segala hal yang terjadi di sekitarnya. Dan bagaimana impian-impian ketika kita masih kecil begitu terdengar heroik. Lucu banget ngeliat bagaimana Luke sangat optimis menjadi pemain baseball terkenal di masa depan.
Gaya bahasa yang digunakan pun selayaknya gaya bahasa John Grisham yang lurus tanpa banyak kiasan. Dialognya sangat mengalir dan bagaimana cara John Grisham membahas soal makananan bikin saya laper terus.
Kekurangan Buku
Kalau ada kelebihan tentu ada kekurangan, dan kekurangan di novel ini saya rasa cuman satu, banyaknya sub plot dan saya sempat kehilangan arah terhadap main plot. Saya rasa bukan masalah besar.
Cocok Untuk
Cocok untuk semua jenis manusia, apalagi untuk orang-orang yang mungkin rindu terhadap masa kecil dan sudut pandang anak kecil.
Kesimpulan
Ada banyak novel yang bercerita tentang anak-anak, dan hanya sedikit yang bisa menerapkannya sebaik novel ini. Kebanyakan orang dewasa ketika menulis anak-anak akan terjebak pada keluguan mereka, membuat mereka terlihat bodoh di ranah yang gak semestinya mereka bodoh. Anak-anak di novel ini bukanlah makhluk yang lugu dan polos. Mereka memiliki ketakutan, memiliki kerinduan, memiliki keinginan, dan sedikit tidak bisa membaca situasi, selayaknya anak-anak yang kita temui di kehidupan sehari-hari. Dan berkat kompleksitas karakter anak-anak di dalamnya, kehidupan sederhana di novel ini menjadi jauh lebih menarik.
Skor akhir 4,9/5
