Bangkai Anjing dan Lampu Merah Kota Mataram

Two cute puppies playfully interacting on a dirt path outdoors.
Gambar oleh Alireza Zohoor Parvaz via pexels

Belakangan saya mulai kembali aktif berlari. Dan setiap pagi ada aja pemandangan yang cukup absurd, tapi entah kenapa terlalu sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah betapa banyak hewan di jalanan yang hawa keberadaannya sangat tipis. Betapa banyaknya kucing liar yang meringkuk di gorong-gorong dan ketika saya panggil, mereka terkejut seakan panggilan adalah suatu hal yang asing di telinga mereka.

Sebulan terakhir saya mendapati 3 ekor bangkai anjing yang tergeletak begitu saja. satu ekor di depan sebuah bengkel. Satu ekor lainnya di depan sebuah kios yang selalu tutup. Dan yang terakhir adalah satu ekor bayi anjing di lampu merah gubernuran kota Mataram.

Ketiga anjing itu bukan pula anjing yang asing buat saya. mungkin salah satu di lampu merah gubernuran cukup asing, karena ia bahkan mati ketika ukurannya sebesar telapak tangan. Tapi dua ekor lainnya cukup familiar.

Beberapa kali saya mendapati mereka bermain.

Seekor di depan bengkel adalah pemilik si tukang bengkel, memiliki kalung hitam dan badannya gendut dan pendek. Bulunya berwarna cokelat dan merupakan anjing yang cukup ramah.

Seekor di depan kios adalah anak anjing umur 1-2 bulan.4 hari beruntun saya mendapati ia bermain bersama ibu dan seorang saudaranya. Ia cukup sehat untuk seukuran anak anjing liar. Tubuhnya berwarna cokelat dan ketika melihat saya berlari, ia ikut berlari. Ibunya sendiri bukan tipikal ibu yang ramah. Ia akan marah segera ketika saya melirik ke anak-anaknya. Salah satu dari mereka kemarin mati. Ketika hendak saya dekati, ibunya mengejar. Tadi pagi saya ketemu lagi dengan ibunya, dan masih patroli di sekitaran bangkai anaknya yang mulai mengembung.

Lalu ada seekor anak anjing seukuran telapak tangan yang mati di lampu merah gubernuran. Ia tergeletak begitu saja di sebuah tembok, tubuhnya begitu lemas seakan sejak awal tak ada kehidupan di tubuh itu. Selama dua minggu ia terus menunggu di sana, tanpa ibu dan tanpa seorang pun yang peduli bahwa ia telah mati.

Saya cukup malu dengan diri saya, karena faktanya saya salah satu orang yang tak peduli. Saya hanya berlari, sekedar melihat dan mencium aroma busuk lalu berlalu begitu saja.  Selama dua minggu itu pula saya menyaksikan perubahan tubuhnya. Dari yang awalnya berbentuk anak anjing kecil yang lucu, perlahan menghitam, lalu hanya tersisa kulit dan kerangka, dan berakhir menjadi sebuah cetakan tubuh  mungil yang membekas di tepi tembok bercat putih.

Kapan sesuatu itu benar-benar lenyap? Saat tiga ekor anjing mati? Saat seekor induk anjing berhenti menjaga bangkai anaknya? Atau, saat sebuah cetakan mungil perlahan memudar, lalu terlupakan? Saya heran kenapa tukang sapu dan para pengendara di sekitar tak menyadari keberadaan para bangkai, namun saya juga sama. Selama dua minggu, saya hanya berlari, melewati mereka begitu saja.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top